6.6.15

Keindahan dan Misteri Istana Air Taman Sari Yogyakarta

Salah satu tempat wisata yang masih berada di dalam kawasan dalam benteng keraton Yogyakarta adalah Taman Sari Keraton Yogyakarta. 

Taman Sari terletak di sebelah barat ke arah selatan komplek Keraton Yogyakarta, tepatnya di belakang lokasi yang dulu digunakan sebagai pasar Ngasem. Pasar Ngasem sendiri merupakan pasar tua yang lebih di kenal sebagai pasar burung, walaupun ada juga binatang lain dan sembako yang dijual disana.

Namun sejak tahun 2010, pedagang burung dan binatang di pindah di sebuah pasar khusus satwa dan tanaman hias di Dongkelan. Seiring dengan penataan pasar Ngasem, yang sekarang terlihat lebih bagus dan rapi, karena selain berfungsi sebagai pasar tradisional sembako, pasar ini juga berfungsi sebagai pasar souvenir kerajinan dan tempat wisata kuliner.

Taman Sari, merupakan merupakan sebuah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang pada jamannya dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor.

Ada sebagian orang yang menyebut Taman Sari ini sebagai keraton/ Istana air (Taman Sari Water Castle The Fragarant Garden). Hal tersebut karena di Taman Sari yang awalnya memiliki luas lebih dari 10 hektare, terdapat banyak bangunan yang terkait dengan air. Di lokasi ini terdapat sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah tanah.

Tempat ini dulunya merupakan tempat rekreasi dan peristirahatan bagi keluarga kerajaan sekaligus sebagai benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1758-1765 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Raden Tumenggung Mangundipuro menjadi pimpinan pembangunan taman yang sebagian biaya pembangunannya di tanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko (Raden Ronggo Prawirosentiko). Beberapa sumber menyebutkan bahwa salah satu arsitek pembangunan Taman Sari adalah seorang Portugis yang diangkat menjadi abdi dalem dengan gelar Demang, sehingga disebut Demang Portegis (Portegis merupakan dialek Jawa pada waktu itu untuk menyebut Portugis) dan lebih di kenal dengan nama Demang Tegis.

Walaupun sebagian dari bangunan yang ada sudah berubah fungsi atau rusak, danau buatan yang disebut "Segaran" (laut buatan) pun sudah berubah menjadi pemukiman penduduk yang merupakan keluarga abdi dalem keraton Yogyakarta. Namun masih ada beberapa bagian lain yang sudah di renovasi sesuai dengan bentuk aslinya.
pemandian Umbul Pasiraman di Taman Sari Yogyakarta
Kolam tempat pemandian Umbul Siraman di Taman Sari Yogyakarta | img : id.wikipidea.org
Salah satu bangunan yang masih utuh dan menunjukkan keindahan arsitektur Taman Sari, yaitu sebuah tempat pemandian Sultan dan keluarganya yang disebut sebagai Umbul Pasiraman.  Tempat tersebut terdiri dari 3 buah kolam bernama Umbul Muncar, Kuras Umbul Binangun , dan Blumbang yang berhiaskan air mancur berbentuk jamur.

Umbul Pasiraman yang dikelilingi dengan tembok-tembok tinggi, mempunyai dua buah gerbang masuk di sebelah barat dan timur.

Sebagai sebuah kerajaan Mataram Islam, adanya bangunan di Taman Sari yang dirancang untuk melaksanakan sholat bukanlah suatu yang mengherankan.
Masjid bawah tanah Sumur Gumuling di Taman Sari Yogyakarta
Masjid bawah tanah Sumur Gumuling di Taman Sari Yogyakarta | img : wego.co.id
Ada sebuah bangunan yang terdiri dari 2 lantai yang di sebut Sumur Gumuling. Bangunan  tersebut merupakan Masjid bawah tanah yang digunakan untuk melaksanakan sholat. Lantai pertama digunakan untuk jamaah laki-laki, sedangkan lantai ke dua digunakan untuk jamaah perempuan.

Di tengah-tengah bangunan Sumur Gumuling terdapat 5 jenjang tangga. 4 diantaranya naik dan bertemu di tengah, sedangkan satu tangga lagi menghubungkan ke empat jenjang tangga tersebut menuju ke lantai dua.  Dibawah pertemuan 4 tangga tersebut, terdapat sebuah kolam air yang digunakan sebagai tempat berwudu bagi jamaah.

Seperti halnya untuk mencapai beberapa bangunan yang ada di Taman Sari, Sumur Gumuling juga bisa di capai dengan melewati terowongan bawah tanah.

Banyaknya lorong-lorong bawah tanah ini menjadi keunikan dan misteri tersendiri. Bahkan konon ada lorong bawah tanah yang sangat panjang, yang bisa digunakan untuk melarikan diri keluar dari wilayah keraton.
Taman Sari Yogyakarta buka untuk umum dari mulai jam 08.00 hingga 14.00 wib, mengenakan harga tiket masuk sebesar 3.000 Rupiah untuk wisatawan lokal dan 7.000 Rupiah untuk wisatawan asing.

Tempat menarik lain yang berada di sekitar Taman Sari :
- Masjid Agung Yogyakarta
- Museum Sonobudoyo


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar