2.6.15

Keindahan Arsitektur Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta

Banyak wisatawan muslim yang berkunjung  ke keraton Yogyakarta, menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid Agung yang berada di sebelah barat alun-alun utara. Selain untuk melaksanakan sholat, mereka mengunjungi masjid tersebut untuk melihat keindahan arsitektur bangunan masjid yang berusia hampir 3 abad itu.

Masjid Agung Keraton Yogyakarta juga dikenal dengan nama Masjid Gede Kauman dibangun pada tahun 1773. Secara simbolis merupakan transendensi untuk menunjukkan keberadaan Sultan yang bergelar “Senopati Ing Alogo Abdur Rahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah” yaitu di samping penguasa yang mempunyai kekuasaan untuk menentukan perdamaian dan peperangan atau sebagai panglima tertinggi (Senopati Ing Alogo), juga sebagai wakil Allah di bumi untuk menjadi pemimpin/ pemuka dan pelindung agama (Abdur Rahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah).

Masjid Agung Keraton Yogyakarta
Masjid Agung Keraton Yogyakarta |img : simbi.kemenag.go.id


Bangunan masjid terdiri dari ruang utama dan serambi. Lantai ruang utama dibuat lebih tinggi dibanding serambi. Ruang utama masjid ditopang oleh empat buah soko guru (tiang utama) dan 12 buah tiang soko rowo (tiang tambahan). Atap ruang utama berbentuk tumpang tingkat tiga.

Tempat imam memimpin salat berjamaah yang disebut mihrab, berbentuk relung setengah lingkaran, dan di sisi kiri-kanan mihrab terdapat hiasan bunga dan tulisan Arab.

Di sebelah kiri mihrab terdapat bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat sholat raja atau penguasa. Bangunan kecil yang disebut Maksurah ini terbuat dari kayu Jati.

Bangunan Pawestren yang berada di sebelah kanan ruang utama, dipergunakan untuk tempat shalat kaum wanita.

Lantai serambi dibuat lebih tinggi satu meter dari permukaan tanah . Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut berpola hias motif pinggir awan yang dipahatkan. Atap serambi masjid berbentuk limasan.

Serambi Masjid Agung Yogyakarta
Serambi Masjid Agung Yogyakarta | img : simbi.kemenag.go.id


Seluruh lantai bangunan masjid yang mampu menampung sekitar 1500 orang jamaah ini, terbuat dari bahan marmer Italia.

Didepan dan samping serambi masjid terdapat kolam kecil yang jaman dahulu berfungsi untuk mencuci kaki orang yang hendak masuk masjid.

Halaman masjid terdiri atas halaman depan dan halaman belakang. Halaman depan masjid merupakan ruangan terbuka yang terletak di bagian luar bangunan masjid, dan dibatasi oleh tembok keliling. Sedangkan di halaman belakang masjid terdapat beberapa makam, yang salah satunya adalah makan Nyai Ahmad Dahlan (istri pendiri organisasi keagamaan Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan).

Di depan halaman terdapat tanah lapang yang di kedua sisinya terdapat sebuah bangunan bernama Pagongan. Saat upacara perayaan Sekaten, pagongan disisi utara yang disebut Pagongan Ler  digunakan untuk menempatkan gamelan sekati Kangjeng Kyai Naga Wilaga dan Pagongan di sisi selatan yang disebut Pagongan Kidul untuk gamelan sekati Kanjeng Kyai Guntur Madu.

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar